Puisi dari Fatimah anak baginda rasul yang di tinggal mati ayahnya…….
24 Apr 2008 6 Komentar
in Uncategorized Tag:Add new tag
Nafasku tersekat dalam tangisan
duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan,
sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan.
Aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan.
Kala rinduku memuncak,
Kejenguk pusaramu dengan tangisan
Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban,
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu,
Tangisan memelukku;
Kenangan padamu melupakan daku dari
Segala musibah yang lain
Jika engaku menghilang dari mataku ke dalam tanah
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih.
Berkurang sabarku bertambah dukaku
Setelah kehilangan Khatamu-l-Anbiya’,
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas-derasnya,
Jangan kau tahan bahkan linangan darah.
Ya Rasulullah, wahai kekasih Tuhan
Pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata lagit
Bebukitan, hutan, dan burung
Dan seluruh bumi menangis.
Duhai junjunganku,
Untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah,
Bukit-bukit dan lembah mekah
Telah menangisimu mihrab
Tempat belajar Al-Qur’an di kala pagi dan senja.
Telah menangisimu islam,
Sehingga islam kini terasing di tengah manusia;
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
Akan kau lihat kegelapan setelah cahaya.
Jun 09, 2008 @ 13:46:47
ass,,,…..
puisinya bgus bnget bsa menambh smangat n kcintaan kita kpd islam
Jan 29, 2009 @ 09:27:44
it’s a best poem ever..
I like it..
Des 25, 2009 @ 10:30:38
Sangat menggetarkan hati n jiwa. Seandainya semua muslimah seperti Fatimah betapa indahnya dunia ini. Puisi ini memperlihatkan Roh seorang muslimah pilihan ALLAH.
Feb 04, 2010 @ 09:21:03
Aku adalah ombak
Aku dan pantai adalah sepasang sahabat
Angin menyatukan dan memisahkan kami
Aku datang dari atas temaram
Untuk menghamburkan perak buihku
Dengan emas pasirnya
Kusejukkan jiwa yang membara
Dengan kelembabanku
Menjelang fajar kusambut semangat jiwa sahabatku
Disenja hari kusambut kerinduan
Saat ia memelukku
Dan ia berkata kaulah sahabat sejatiku
Feb 04, 2010 @ 09:28:21
asslm wr wb..Segera
setelah Islamnya mughis papua, perlahan ujian demi ujian pun datang.
aqu
dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibupun tak mengakui lagi
qu sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya
pula. Kakak qu menganggap qu sudah gila dan perlu dirawat di rumah
sakit jiwa. Belum be…rhenti disitu, . Yang
membuat hati mughis sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan
aqu pun
tak punya hak mengasuh olh kedua orng tuaku, kecuali meninggalkan
Islam. “Saya
meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan
bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” wasslm wr w
Jun 11, 2010 @ 12:19:59
alankah indahnya dan mengetarkan jiwa.
tak sanggup aku …….
seperti fatimah……